One of The Best Day Ever

2 February 2011

Selesai sholat subuh, Khansa keluar dari rumah, mengendap-endap. Rumah itu bukan rumahnya, Khansa keluar dari sebuah bangunan yang baru pertama kalinya ia tempati. Dia tinggal, tidur, makan, membaca Al-Qur’an, menghafalkan surat dan sholat berjamaah di sana bersama teman-temannya yang lain untuk beberapa hari. Acara ini diadakan oleh Gamais ITB (Keluarga Mahasiswa Islam ITB), unit yang dia putuskan untuk menjadi tempatnya beraktivitas kedepan selama dia berkuliah di ITB. Hati-hati sekali Khansa melangkah meninggalkan bangunan itu. Semestinya, Khansa ada di dalam bangunan itu bersama teman-temannya yang lain, menjaga teman-temannya, memastikan teman-temannya tidak melakukan suatu hal yang membuat ia kena omelan panitia karena saat ini, Khansalah penanggung jawab teman-temannya yang ada di sana. Khansa berfikir tidak semestinya dia yang diamanahi menjadi koordinator akhwat. Dalam hati Khansa, “cuma amanah tiga hari, semoga saya bisa melakukannya dengan baik”, dia tertantang.

Dia menemukan tempat yang sempurna di samping bangunan itu, sedikit menanjak, dia menemukan tembok, tembok tebal layaknya pagar, dari sana matahari terlihat tanpa terhalang apapun, awan yang disekitarnya cantik, dan diapun mehidupkan mp3 player lalu memasang musik instrument yang membuat suasana fajar semakin syahdu. Khansa duduk di tanah, mengorbankan roknya yang bersih, bersandar pada tembok itu. Mataharinya indah dan tak menyilaukan. Langit, bintang, dan kupu-kupu, itulah tiga ciptaanNya yang Khansa paling suka. “Aah, Matahari, Dia lah yang dibalik benda yang bersinar ini. Apakah matahari yang kupandang ini adalah matahari yang sama dengan yang Rasulullah pandang 1400 tahun yang lalu?”, tanya Khansa, lemas ia berfikir.

Dia menikmati perenungannya. Dia memutar segala kenangan yang pernah ia lalui. Khansa adalah perempuan biasa. Dia memiliki masa kecil yang penuh kebahagian, semasa TK sampai SMP, kebahagian yang membuat dia selalu menjadi anak yang bersyukur. Bermain, memiliki banyak teman, saat itu, semua olahraga dia lakukan, segala mainan dia mainkan, segala kompetisi dia coba dan tak ada sedikitpun penyesalan yang ia rasakan saat itu. “Indah”, dalam hati Khansa berbisik, sambil memandang beberapa rumah penduduk dan hamparan hijau dari tempat ia duduk. Diapun maju mengingat masa SMAnya, Khansa kecil yang dahulu menghabiskan masa kecilnya di pulau Sumatra dan pindah ke Bandung karena kemauannya sendiri. Banyak kejutan ia rasakan saat ia pindah ke Bandung. Salah satu kejutan yang tak pernah terpikirkan. Rasa hampa muncul begitu saja tanpa sebab, rasa hampa yang menjengkelkan, perasaan itu membuat dia sulit merasa, sedih atau senang. Dia tak mengerti, rasa itu membuat dia tak bahagia.

Dia memutar ulang apa yang ada pada masa itu. “Dung”, khansa memutar ulang suara bola basket yang masuk ke ring. “Hmm. Kenapa biasa aja ya?”, Khansa remaja bertanya pada dirinya sendiri. Khansa kebingungan, biasanya ia senang bukan kepalang bila shoot-nya masuk ring. “Kenapa sekarang-sekarang ini kok susah buat seneng sih?”. Khansa remaja lalu terus mencari. “Biasanya klo makan coklat pasti seneng”, Khansa remajapun langsung membeli coklat kesukaannya dan saat ia menikmatinya, hatinya tetap tak bahagia. “Bagaimana jika aku mati?, hal apa yang aku rasakan?” SMS yang diketik Khansa untuk Indra, teman lesnya. “Sa, istighfar Sa, jangan ngomong gitu, ah”, balas Indra. Padahal Khansa remaja tak berpikir kearah hal-hal seram yang mungkin terpiki oleh Indra.

Segala hal ia tempuh untuk mencari kebahagiaan itu. Segala hal senang-senang yang biasa dilakukan teman-temannya ia ikuti, tapi hal tersebut tidak berubah, rasa bahagia itu tak kunjung ia dapatkan kembali. Dan pada suatu hari, Khansa mengikuti sebuah pelatihan. Pelatihan itu membuat dia menemukan kebahagiaan, membuat dia menyadari sungguh besar kasih sayang Allah yang ia terima, betapa sayangnya Rasulullah padanya. Satu-satunya hal yang membuatnya bahagia lagi dengan menyadari bahwa Allahlah yang selama ini ia cari-cari. Allahlah yang ia cari untuk mengisi kekosongan hatinya. Khansa menjadi tau, kenal, siapa penciptanya, siapa yang meniupkan rasa bahagia itu di dalam hatinya.

Ternyata, untuk Allahlah pengabdiannya selama ini. “Ya Allah, terima kasih, aku ingin menjadi hambaMu yang paling Engkau sayang, aku ingin Engkau bangga padaku, Ya Allah, aku mengabdi padaMu, sebagai rasa syukurku, Ya Allah, jadikan aku hamba yang selalu bersyukur”. Khansa kembali. Ia menjadi bahagia kembali, selalu ceria, selalu mencoba untuk “mencuri” perhatianNya. Masa SMA tak terasa berlalu dengan cepat. Dia menjadi anak yang baik, remaja hebat yang berani dan begitu percaya diri melakukan segala aktivitasnya hanya untukNya. Ia bersyukur dianugrahi keyakinan yang begitu kokoh. Sholat dhuha, sholat tahajud yang menghiasi pagi dan malamnya selalu ia lakukan dengan ikhlas. “Supaya Allah makin sayang sama aku”, prinsip Khansa remaja.

Khansa dewasa masih memandang langit dan menyandarkan bahunya di tembok yang sama, menikmati udara pagi yang masuk menyegarkan paru-parunya, segarnya menghirup udara pagi ini bagaikan segarnya meminum es jeruk di saat kepanasan. “Terimakasih, Allah”, ucap syukur Khansa. Khansa pun kembali mengenang hal apa saja yang pernah ia lalui sampai ia bisa di tempat ini, bersama teman-temannya yang super soleh itu. Sebenarnya, butuh perjuangan yang keras bagi Khansa untuk bertahan disini, bersama teman-teman solehnya. Deraian air mata yang ia korbankan untuk bisa bertahan disini. Sebelum Khansa disini, banyak kegiatan lain yang ia lakukan di GAMAIS. Sebenarnya dia mendaftarkan dirinya ke unit GAMAIS karena alasan ingin berada di lingkungan orang-orang baik. Tetapi semakin lama, alasan untuk beraktivitas di unit ini tidak sesederhana itu. Khansa teringat, dahulu, perjuangan yang ia lakukan untuk ia berada sampai disini cukup melelahkan.

Saat pertama kali bergabung di GAMAIS, ia selalu merasa bahwa GAMAIS adalah milik beberapa orang saja, dilihat dari fakta-fakta yang ada. Ia menyadari bahwa setiap diadakan kepanitiaan, tim inti selalu sudah terbentuk tanpa ada informasi sebelumnya. Mulai dari sana, ketidaknyamanan terus membuat Khansa tidak yakin untuk bertahan di GAMAIS. Khansa sempat putus asa dan berfikir untuk keluar dari kegiatan-kegiatan GAMAIS, tetapi teteh mentornya di Jurusan Desain Interior, teh Farah, selalu memberikan penjelasan-penjelasan pada Khansa atas segala kekecewaan yang Khansa rasakan agar Khansa tetap bertahan. Sering kali Khansa menangis karena merasa tidak dianggap di GAMAIS, tapi, selalu saja teh Farah menguatkan Khansa untuk bertahan. Memang, Khansa memiliki tekat yang kuat untuk berada di sana.

Sebenarnya, Khansa merasa sangat bahagia berada di antara teman-temannya yang baik itu, tapi faktor kecemburuan yang terkadang membuatnya sedih berlarut. Di awal-awal kuliah di ITB, memang, pakaian yang Khansa kenakan sangat standard, jilbab yang ia pakai sempit, cara Khansa membaca Al-Qur’an tak selancar teman-teman GAMAISnya. Pada sebuah kepanitiaan yang ia ikuti, ia mencoba untuk meniru apa yang teman-temannya lakukan. “Apa Allah lebih sayang sama mereka dari pada sama aku ya?”, pikir Khansa saat itu. “Aku juga mau Allah lebih sayang sama aku”, Khansa antusias. Khansa mencoba melebarkan jilbabnya, saat itu. Khansa sangat senang, melihat tampilannya layaknya teman-teman GAMAISnya. “Sa, itu leher kamu keliatan, jilbabnya transparan, rok kamu juga transparan”, tiba-tiba Dinna berkata pada Khansa saat Khansa sedang menikmati jilbab lebarnya saat itu. Saat itu Khansa terdiam, hatinya hancur, ia tau jilbab yang ia pakai memang bukan jilbab yang diperuntukkan untuk dipakai lebar, tetapi ia memaksa jilbab sempitnya untuk dipakai secara lebar. Khansa juga tersadar rok yang ia kenakan seharus 2 lapis, seperti teman-temannya yang lain. Khansa pergi bergegas ke tempat yang lebih sepi. Khansa berlari menuju kursi panjang di depan kantin Salman, saat itu kantin masih sepi, Khansa tak berdaya dan langsung terduduk, menangis deras dan langsung menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Ternyata usahaku sia-sia, aku memang tak mampu menjadi sesolehah mereka”, ujar Khansa dalam hati, nampak menyerah. Khansa kembali menceritakan kesedihannya pada teh Farah, namun teh Farah masih menguatkan hati Khansa dengan sabar. “Teh Farah, saya mau keluar saja”, kata itu sering sekali diucapkan Khansa.

Satu semester berlalu dan Khansa masih bertahan. Kepanitiaan pun berganti. Khansa mengenang kembali perjuangan berat yang ia harus tempuh lagi untuk bertahan di GAMAIS. Di suatu sabtu siang, saat itu Khansa menghadiri sebuah rapat yang dipimpin oleh kakak kelasnya. Rapat dilakukan di koridor, sekitar 8 orang akhwat dan 14 ikhwan hadir. Di akhir dari rapat itu, tiba-tiba sang pemimpin rapat melakukan mutaba’ah, mutaba’ah ini ditujukan agar pemimpin rapat mengetahui kondisi dan kinerja semua panitia. Khansa kaget, belum pernah ia dimutaba’ah di depan umum seperti ini, apalagi pemimpin rapat adalah laki-laki yang Khansa tidak begitu kenal. Dua parameter yang Kakak kelasnya tanyakan berhasil Khansa lewati. Khansa mengangkat tangan dua kali, itu pertanda bahwa Khansa melakukan apa yang Kakak kelasnya itu pastikan. “Yang selama satu bulan ini, tilawah sebanyak 15 juz, angkat tangan”, perintah kakak kelasnya. Khansa terdiam, lemas, teringat, seminggu saja saat itu dia hanya menghabiskan 3 juz dan itu merupakan usaha terbaik Khansa, saat itu. Seselesainya rapat, Khansa langsung pergi menyendiri. Lagi, Khansa merasa di titik terlemah. Khansa berprasangaka bahwa semua teman-temannya pasti mengangkat tangannya saat itu dan hanya Khansalah yang tidak. Khansa hanya bisa mengira-ngira karena semua kepala tertunduk pada saat itu. “Baiklah, memang sepertinya saya tidak pantas untuk berada di sini, tapi Ya Allah, apakah masih ada kesempatanku untuk bertemu denganMu kelak?”. Di kemudian harinya Khansa bertemu teh Dhini, sahabat teh Farah. “Teh, saya merasa tak pantas disini”, Khansa menceritakan secara detail apa yang ia alami dan rasakan. Khansa kembali menangis merasa apa yang telah ia lakukan tak ada apa-apanya dibandingkan teman-temannya yang lain, kekecewaan yang terdalam ia rasakan terhadap dirinya sendiri. Teh Dhini mengerti apa yang Khansa rasakan dan teh Dhini mengatakan bahwa Khansa adalah gadis yang bersemangat dan kuat. Khansa akhirnya kembali bertahan. Dia menyadari, betapa bahagianya dia berada di antara teman-teman tercintannya itu. Khansa menginginkan ada di antara mereka, bersama mengingatNya, bersama melangkah karenaNya, berlari mengabdi padaNya, berjuang mendapatkan cintaNya, bersama menangis rindu ingin bertemu denganNya, sungguh kebahagiaan terbesar menjadi bagian dari mereka. Khansa bimbang dan sesekali putus asa, kesedihan sering menerpanya karena malu yang ia rasakan dan kesedihan saat membayangkan dirinya bukan menjadi bagian dari mereka. Khansa takut bercampur sedih, tetapi ia berjanji pada dirinya agar terus bertahan dan melakukan yang terbaik.

Khansa dewasa tak henti-hentinya bersyukur saat itu. Matahari mulai naik. “One of the best day ever”, gumam Khansa. Betapa bahagianya ia berada disana sekarang. Khansa bersyukur, Allah memberinya kekuatan hingga sekarang ia sampai ada disini, di suatu posisi bahwa ia mengerti dari jawaban segala pertanyaan yang membingungkan, yang membuat ia kecewa, yang membuat ia begitu cemburu di awal kegiatan GAMAIS yang ia lalui dulu. Semalam, mereka melaksanakan sholat isya berjamaah. Kiara menjadi imam saat itu, khusyuknya Khansa sholat malam itu. Di dalam sujud Khansa, Khansa menangis, tangisan kebahagiaan di dalam sujud, sujud bersama teman-temannya, teman-teman yang Khansa tau bahwa mereka juga merasakan hal yang sama, begitu mencintai dan sangat merindukanNya.

“Terimakasih Allah, dengan izinMu aku ada disini, dengan izinMu, Engkau melangkahkan kakiku kesini. Kalau bukan karenaMu, maka siapa lagi?”, bisikan di dalam hati Khansa. Dengan kehadirannya ia disana, ia menyadari tugasnya menjadi Khalifah di bumi tak sesederhana dulu lagi. “Tugas yang tidak mudah”, pikir Khansa. “Dia yang memintanya, sungguh aku yang dipilihNya, dan aku tak mau menjadi hambaNya yang tak bersyukur”. Rasa laparlah yang menghentikan renungan pagi itu, mungkin sudah setengah jam Khansa berada di balik tembok untuk bersembunyi. Sulit meninggalkan matahari yang sinarnya tak menyilaukan, langit, dan hamparan hijau itu. Ia sadar bahwa kegiatannya disini cukup padat dan tak semestinya ia berada di luar rumah lama-lama. Ia menuruni tanjakan itu dengan hati-hati dan kembali ke rumah menemui teman-temannya, lalu sarapan. Sarapan kali ini bukan memakai piring, tapi piring itu diganti dengan sebuah nampan rotan yang besar, tampah namanya. Sarapan berenam di suatu tampah, kapan lagi?.

-cerpen ini dibuat selama 2 hari karena diingatkan Ratna FT08, sehubungan dengan memenuhi tantangan dari Agung EL07-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: